Ditulis Oleh: Johnnie Susanto

Kecerdasan emosi atau emotional intelligence (EI) adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mengelola, dan mengarahkan emosi sendiri dan orang lain dengan efektif. Hal ini sangat penting dalam menjalin hubungan interpersonal yang sehat dan mempengaruhi kinerja dalam berbagai bidang, termasuk di tempat kerja, di sekolah, dan dalam kehidupan pribadi.

Eksperimen Marshmallow pertama kali dilakukan di tahun 1970 oleh Walter Mischel dan kawan-kawan. Eksperimen tersebut ingin mengamati bagaimana efek menunda kepuasan. Caranya sebagai berikut: sejumlah anak (sekitar 32 anak) diminta duduk dalam ruangan sendiri-sendiri dihadapan mereka ada tabung toples berisi marshmallow yang berwarna-warna. Anak-anak itu diberi waktu 15 menit, jika mereka ambil marshmallow sebelum waktu 15 menit (aba-aba dari petugas eksperimen) mereka tidak diberi tambahan marshmallow, jika mereka tahan tidak ambil marshmallow, mereka akan diberikan tambahan marshmallow. Experimen berjalan, ada sejumlah anak yang tidak tahan, sementara ada sejumlah anak lain yang tahan tidak mengambil marshmallow tersebut. Kemudian beberapa tahun kemudian diteliti lagi bagaimana tingkat kesuksesan mereka dalam hidup. Memang ada unsur kemampuan menunda kepuasan atau kontrol diri yang mempengaruhi, disamping ada faktor-faktor lain.

Kalau kita amati etos kerja orang-orang Asia yang gila kerja maka fenomena menunda kepuasan nampak jelas. Mereka bekerja sangat keras, tidak ingin segera istirahat ketika bekerja, dan sanggup berkonsentrasi kerja dalam waktu yang lama. Sebaliknya orang-orang yang disebut pemalas cenderung ingin segera istirahat dan juga tidak sanggup berkonsentrasi dalam waktu yang lama.

Ahli-ahli ibadah di agama apapun ditandai dengan kemampuan menahan dan mengelola hawa nafsu, menjadi tuan dari hawa nafsu. Sesuai dengan judul tulisan ini perihal Emotional Intelligence, kemampuan menunda kepuasan menjadi salah satu kemampuan dari emotional intelligence. Menurut Daniel Goleman, emotional intelligence mempunyai 2 aspek yaitu kemampuan pribadi dan kemampuan sosial. Kemampuan pribadi mencakup kesadaran diri, mengelola emosi, motivasi. Dan kemampuan sosial berkenaan dengan mengelola emosi orang, membina hubungan.

Di tahun 2010 saya pernah beradu argumen dengan seorang penulis yang juga pengamat hotel dan pengamat bola. Beliau berpandangan konsep Emotional Intelligence (EI) tidak cocok dengan kenyataan. Banyak orang galak dan suka marah-marah, sukses juga dalam karir. Seperti Mourinho, pelatih sepak bola yang gayanya sering marah-marah. Mungkin dalam persepsinya EI menyuruh orang bersopan santun dan lemah lembut. Saya kira EI bukan kesitu arahnya. Ada sejumlah kenyataan yang memperlihatkan bahwa pemarah akan berhadapan dengan memburuknya hubungan antar manusia. Ada kasus isteri yang minta cerai karena suami pemarah, kemudian sang suami pergi ke psikoterapis untuk bisa mengatasi sikap temperamentalnya. Terapis memberikan saran dan latihan agar si suami itu lebih bisa mengendalikan diri. Ternyata berhasil, dan sang isteri tidak jadi meminta cerai. Selain itu bisa kita bayangkan jika seorang pemarah bekerja di kantor. Dia bisa bermasalah dengan atasan, rekan kerja dan bawahan. Suasana disharmoni membuat karya-karya yang dihasilkan menjadi kurang optimal. Bahwa Mourinho sukses, perlu ditelusuri lebih lanjut dengan pengamatan yang cermat dalam kesehariannya, bukan mustahil dia orang yang perhatian dan dermawan terhadap orang lain. Bukan sekedar marah-marah.

Kembali ke EI. Orang yang punya kesadaran diri, bisa mengendalikan diri, dan punya dorongan kuat untuk berhasil disertai kemampuan mengelola emosi orang, dan membina hubungan tentunya punya kemungkinan berhasil di dunia kerja dan juga disukai di masyarakat.

Dorongan kuat untuk berhasil atau bermotivasi yang tinggi (high achievement motivation) banyak dimiliki oleh wiraswastawan. Makanya di tahun 1970an pemerintah, dalam ini departemen perindustrian mengundang Tim McClelland untuk mengajarkan Achievement Motivation Training untuk para pengusaha UMKM Indonesia.

Demikian juga pelatihan hubungan antar manusia yang dimotori oleh Dale Carnegie, dari bukunya How to win friends and influence people. Tetap populer sampai saat. Salesperson dan orang kerja kantor dan pabrik sangat membutuhkan kemampuan hubungan antar manusia ini.

Demikian sekilas serba serbi Emotional Intelligence. Lain waktu saya tambahkan tulisan-tulisan serupa. Semoga bermanfaat!

inviadwi
inviadwi

Would you like to share your thoughts?