Ditulis Oleh: Rilzan Chandra

Seringkali kita terjebak dalam hidup yang rumit dan penuh tekanan. Tuntutan sehari-hari, target yang harus dicapai, dan ambisi yang menggebu-gebu dapat mengaburkan pandangan kita terhadap kebahagiaan yang sebenarnya bersembunyi dalam kesederhanaan.

Belasan tahun yang lalu ketika masih bekerja sebagai konsultan pemasaran di suatu perusahaan otomotif, saya dan tim pernah melakukan Repositioning Strategy (strategi mengubah posisi/pencitraan) terhadap salah satu kendaraan jenis city car (mobil kecil). Saat itu pemasaran kendaraan tersebut jauh dibawah produk pesaingnya yang memang sedang merajai pasar.

Dari hasil analisis terhadap karakteristik kendaraan dan kebutuhan konsumennya kami mendapat kesimpulan bahwa kendaraan ini memiliki sifat-sifat yang disukai oleh kalangan perempuan dengan segmen demografis dan psikografis tertentu. Kalangan ini menginginkan kendaraan yang tidak menyusahkan mereka baik dalam pengendaraan maupun pemeliharaannya, dan city car ini memiliki kualitas-kualitas yang diinginkan tersebut. Sehingga ketika re-launching ke pasar, kami memfokuskan pasar sasarannya kepada segmen tersebut, dalam kampanye promosi antara lain kami menampilkan tagline (slogan) yang berbunyi, “The simple thing in life”. Kampanye tersebut sangat sukses sehingga dalam waktu kurang dari 1 tahun penjualannya melonjak sampai 90% mengalahkan merek pesaingnya itu.

Hal-hal yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yang memudahkan, yang membuat nyaman, yang tidak memusingkan. Ini yang dimaksud dari tagline di atas.

Sering kita tidak menyadari bahwa kita mempersulit hidup kita sendiri. Maunya sih sederhana, gampang, tetapi yang terjadi malah komplikasi. “Pabaliyeut, hese” cek urang Sunda mah. Kenapa bisa begitu ya?

Dulu almarhum Prof. Slamet Iman Santoso pernah berkata dalam suatu kuliah Studium Generale, “Yang namanya orang pintar cirinya adalah membuat mudah hal yang rumit, tapi kalau orang bodoh hal-hal yang mudah (dan sederhana) malah dibikin rumit”. Kami tertawa keras, karena ‘ngeh’ kalau ucapan tersebut merupakan sindiran terhadap pemerintah Orba yang sedang membungkam kalangan perguruan tinggi waktu itu.

Pernah juga ada ungkapan yang populer di era 80 – 90an yaitu KISS (Keep It Simple, Stupid!). “Bikin gampang aja deehhh…dasar blo’on!”

Bahkan Alm. KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ketika menjadi Presiden sering melontarkan ungkapan yang sangat terkenal bahkan sampai ke mancanegara, “Gitu aja kok repot” atau “Ngapain repot-repot”, untuk menanggapi media atau lawan-lawan politiknya yang menurut beliau berpikiran complicated.

Apa sih sebenarnya yang membuat rumit hidup kita? Udah tahu hidup mudah dan sederhana itu lebih nyaman, kenapa kok kita repot-repot mencari yang rumit-rumit dan susah-susah?

Banyak orang sering mengatakan,’Eh hidup di Jakarta itu udah susah, ngapain juga nambahin susah hidup sendiri?’

Iya, ngapain ya? Pernah kah kita berpikir kalau sebenarnya kita menginginkan hidup yang mudah dan nyaman, namun secara tak sadar justru membuatnya jadi ‘complicated’ dan susah?

Beberapa perilaku paradoks yang sering saya amati misalnya sebagai berikut :

  1. Udah tau Jakarta biangnya macet, bahkan termasuk kota yang termacet di dunia, apalagi pada jam pergi dan pulang kantor, tetap saja kita membawa kendaraan pribadi (mobil) setiap hari. Padahal waktu tempuh berangkat dan pulang kantor mencapai 2 x 2 jam atau 4 jam. Bayangkan, membuang waktu hidup yang berharga

4 jam  sehari! Belum lagi kelelahan  yang  dialami  ketika  sampai  di tujuan.  Saya

pernah tanya beberapa teman apa alasan mereka mengendarai mobil ke kantor tiap hari, jawaban mereka antara lain :

  1. Kendaraan umum susah di daerah saya, penuh terus.
    1. Naik taksi mahal.
    1. Kendaraan umum tidak nyaman, apek, berdesak-desakan.
    1. Naik kendaraan umum nyambung-nyambung sampai 3x, repot.
    1. Tiap hari harus ke beberapa tempat, repot kalau tidak bawa mobil.
    1. Saya senang mengendarai mobil.
    1. Buat apa punya mobil, kalau tidak dikendarai?
    1. Kalau hujan basah (emanggg!)

Tetapi yang mereka tidak (mau) pikirkan adalah :

  1. Tingkat stres yang tinggi ketika sedang mengendarai mobil (bahkan jika dengan supir sekalipun).
  2. Rasa was-was sepanjang perjalanan (serempetan atau diserempet sepeda motor, metromini, dsb.)
  3. Daya tahan tubuh yang rendah sehingga cepat lelah (teman-teman yang bawa mobil jam 8 atau 9 malam sudah tidur kecapean, sementara saya yang naik kendaraan umum masih bisa bekerja sampai lewat tengah malam dan jam 5 pagi sudah bangun lagi).
  4. Rentan terhadap gangguan kesehatan, baik oleh karena stres yang berkepanjangan maupun efek karena duduk terlalu lama di mobil.
  5. Susah mencari tempat parkir, dan mahal pula karena umumnya mobil diparkir seharian atau jika berlangganan parkir biayanya juga cukup tinggi.
  6. Biaya operasional kendaraan yang umumnya lebih mahal daripada naik kendaraan umum (termasuk taksi sekalipun) kalau dihitung bulanan.
  7. Di Barat atau Jepang masyarakat berbondong-bondong mengantri  sampai  ratusan meter panjangnya hanya untuk  nonton film premiere.  Bahkan kalau benar  apa yang kita saksikan di TV,  mereka  rela  mengantri  panjang  menunggu  giliran  masuk restoran favorit sambil kehujanan dan kepanasan. Atau menginap dengan membawa sleeping bag atau tenda untuk membeli barang  yang  bukan  kebutuhan  pokok (misalnya gadget yang baru keluar perdana).

Budaya seperti ini sepertinya sudah mewabah ke Indonesia sejak lama. Buat apa sih? Seperti khawatir kehabisan dan tidak ada kesempatan lagi berikutnya.

Mungkin pikiran saya yang agak kurang konformistik, tetapi terus terang sejak dulu saya mempertanyakan,’Ngapain sih repot-repot ngantri, padahal film itu diputar berminggu-minggu. Tunggu aja waktu yang kosong, kita bisa nonton  dengan nyaman. Filmnya nggak bakal didiskon juga kok, tetap sama. Paling-paling cuma ketinggalan cerita saja dari teman-teman. Emang rugi apa?’.

Atau, ngapain ngantri sampai pingsan-pingsan untuk membeli HP terbaru, seperti nggak bakal diproduksi lagi aja? Padahal kalau ditunggu 3-4 bulan barangnya akan tersedia banyak serta harganya umumnya akan turun.

  • Pergi liburan ke daerah/kota wisata mau tidak mau dilakukan oleh sebagian besar warga Jabodetabek pada akhir minggu oleh karena mereka bekerja dari Senin s.d. Jum’at. Sudah tahu kan akibatnya? Setiap akhir minggu TV dan radio menyiarkan bagaimana jalur Jagorawi – Puncak macet parah, kendaraan keluar masuk  tol Pasteur berhenti total, imbas kemacetan di Ancol sampai ke Senen. Waduuh apa enaknya liburan seperti itu? Apalagi ketika malam Tahun Baru.

Beberapa tahun yang lalu kami sekeluarga pernah diajak bermalam tahun baru di Puncak bersama beberapa keluarga lain. Saya menolak ikut karena pasti akan macet panjang dan lama. Ketika pulangnya saya tanya, ‘Berapa jam pergi dan pulang dari

Puncak kemarin?’ ‘Wah gila, berangkatnya hampir 7 jam, pulangnya 6 jam. Tapi kebayar kok, tempatnya enak, semua bisa senang-senang’. Heee? Apanya yang senang-senang kalau harus membayar 13 jam di jalan pergi pulang?🤦‍♂️. Yang aneh siapa ya? Mungkin saya.

Lantas gimana dong? Kalau saya sih pinginnya yang namanya liburan ya senang- senang mulai berangkat dari rumah sampai kembali lagi ke rumah. Jadi saya lebih memilih ambil cuti 2 hari, Senin dan Selasa. Anak-anak saya (ketika masih SD/SMP) dengan ‘terpaksa’ minta izin nggak sekolah. Dijamin perjalanannya nyaman, hotel jauh lebih murah (karena bukan peak season), bahkan belanja apa pun juga lebih murah, dan nyaman tentunya. Then, everybody is happy. OK saja bagi semua, toh nggak tiap bulan harus liburan kan?

  • Sudah tahu hari Sabtu adalah hari macet nasional di Jabodetabek, karena orang- orang yang bekerja Senin – Jum’at keluar rumah bersama keluarganya beramai- ramai mengunjungi mall atau tempat hiburan lainnya, kita pun tak  ketinggalan untuk mempersulit hidup kita dengan terlibat dalam kemacetan di jalan dan kesulitan mencari parkir. Mengapa tidak pada hari Minggu yang umumnya lebih lowong atau menyibukkan diri bersama keluarga di rumah atau di lingkungan sekitar rumah?

Telling you the truth, simple thing in life tidak selalu berarti hidup sederhana atau murah. Sering kali malah kita harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk bisa hidup mudah. Jika tidak taktis, naik taksi ke kantor di Sudirman dari Depok pergi pulang tiap hari tentu lebih mahal dari ongkos BBM mobil pribadi. Juga bukan berarti mau enaknya sendiri, tidak peduli pada orang lain.

Simple thing in life disini pengertiannya lebih ditujukan kepada sikap atau falsafah hidup. Bahwa hal-hal yang sederhana dalam hidup mengandung kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Bahkan dapat dikatakan merupakan nilai moral yang berisi  antara lain  sikap apa adanya (bukan apa-apa ada loh), menikmati apa yang ada dan tidak mencari-cari yang tidak ada atau tidak penting ada. Mementingkan rasa nyaman, bahkan ketika dalam kondisi sedang susah (atau sedang bokek). Memiliki keyakinan bahwa apa yang dikerjakan tidak merugikan orang lain, bahkan memberi manfaat bagi banyak orang. Tidak bersandar pada standar orang lain, tetapi diri sendiri. Dapat merasa nyaman dan bahagia ketika mengerjakan hal-hal yang kecil dan sederhana.

So let’s not complicate our life. Do simple things in life. Dijamin hidup kita nyaman dan enteng, daaan mudah-mudahan memanjangkan umur. Amiin.

The Simple Thing In Life

inviadwi
inviadwi

Would you like to share your thoughts?