Ditulis Oleh: Widura IM

Saat ini banyak dan sudah umum penggunaan peralatan kerja, baik di rumah tangga seperti pemanas masakan (microwave), ponsel pintar (smartphone), GPS (global positioning system) di kendaraan sampai dengan peralatan kerja di kantor yang serba otomatis.  Otomatisasi atau otomasi dipandang sebagai cara terbaik untuk membantu manusia dalam bekerja.  Disamping dapat mempercepat pekerjaan juga lebih presisi hasilnya. Hanya saja seringkali tidak disadari bahwa konsekuensi digunakannya otomasi dapat merubah secara fundamental cara manusia bertingkah laku dan melaksanakan suatu pekerjaan.  Bila hal ini tidak diantisipasi, maka yang terjadi bukan otomasi membantu mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan manusia, tetapi otomasi malah dapat menyebabkan kegagalan jenis baru yang sebelumnya tidak ada. Kasus kecelakaan seseorang jatuh dari lift di Kualanamu mungkin kita dapat menjadi contoh dampak otomasi yang tidak diantisipasi.    

Tantangan Otomasi

Tantangan yang terkait dengan penerapan otomasi dalam sistem apapun adalah pentingnya manusia mengembangkan kiat untuk tetap sadar terhadap kinerja sistem dan tak jarang perlu merubah kebiasaan dalam bertingkah laku. Perlu diingat bahwa penggunaan otomasi ditujukan untuk membantu manusia, bukan mengganti sepenuhnya peran manusia sebagai pengendali.  Oleh karena itu, manusia sebagai operator harus memiliki akses “tepat-waktu” ke informasi sistem yang sesuai dalam format yang mendukung asesmen kinerja sistem secara akurat. Ini diperlukan agar manusia dapat secara efektif masuk (atau bertindak) ketika ia dibutuhkan untuk melakukan intervensi. 

Umumnya, sistem otomasi mampu beroperasi dengan sangat baik bahkan tanpa keterlibatan operator manusia. Namun, keadaan bisa menjadi kritis ketika otomasi tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.  Otomasi yang umumnya menjalankan banyak fungsi secara rutin, membuat manusia sebagai operator tidak selalu sadar (aware) dan siap untuk bertindak ketika dibutuhkan. Sebagai contoh, pengemudi mobil yang menggunakan GPS ketika menuju suatu lokasi akan mengandalkan instruksi GPS, disamping dapat memperkirakan dan mempercepat waktu tiba juga membantu mereka yang belum akrab dengan daerah tujuan. Namun dalam beberapa situasi kadang mengikuti GPS bukan tindakan yang paling atau selalu tepat. Misalnya, GPS menginstruksikan pengemudi belok kanan karena sistem navigasi satelit “menyarankan” tindakan tersebut. Padahal sebenarnya manuver itu dilarang karena ada rambu jalan melarang belok kanan. Dalam kasus ini, ketergantungan pada otomasi bisa merupakan kasus “tidak membahayakan, dan tidak salah” asalkan tidak ada polisi yang mengawasi perilaku tersebut.  Pada contoh di atas, instruksi GPS perlu menyertakan informasi/peringatan bahwa operator tetap bertanggung jawab atas semua tindakan, dan/atau rambu jalan yang melarang belok kanan sudah terlihat sangat jelas. Sebetulnya kasus yang mirip dengan peristiwa di Kualanamu. Orang memang dituntut mempercayai otomasi, namun perlu ada informasi tambahan dan dalam beberapa situasi tertentu manusia tetap lebih baik mengandalkan pertimbangan mereka sendiri.

Kepercayaan pada Otomasi

Sistem otomasi yang tingkat kehandalannya sangat baik, membuat operator sangat percaya bahwa otomasi tidak mungkin gagal. Terkait dengan isu “kepercayaan” pada sistem otomasi, merupakan pertanyaan besar, karena kepercayaan pada otomasi adalah masalah yang kompleks. Terkadang ada ketidaksesuaian antara kemampuan aktual suatu sistem dengan apa yang diyakini pengguna pada kemampuan sistem.  Kemampuan ini dipengaruhi oleh pengalaman pengguna sebelumnya dengan sistem. Pengguna cenderung mempercayai bahwa otomasi dapat membantu mereka mencapai tujuan – tetapi dalam situasi yang tidak pasti, atau ambigu atau tidak biasa, pengguna dan otomasi mungkin bekerja dengan tujuan yang berbeda.  

“Kepercayaan” terhadap otomasi juga dapat berarti sesuatu hal yang berbeda bagi orang yang berbeda. Pengguna yang “percaya buta” bahwa bunyi alarm menginformasikan adanya situasi darurat akan sangat yakin bahwa informasi itu pasti benar, bahkan bila dihadapkan pada informasi atau fakta yang bertentangan. Dalam beberapa hal, ada peran pengalaman, budaya dan perbedaan generasi usia dalam kepercayaan terhadap teknologi otomasi.  Suatu penelitian di penerbangan mengungkapkan bahwa pilot yang senior cenderung tidak mudah percaya pada sistem otomasi yang lebih baru dibandingkan dengan pilot yang lebih muda, sehingga mereka membutuhkan waktu lebih lama dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi otomasi. 

Complacency Otomasi

Suatu penelitian oleh Parasuraman, Molloy dan Singh di tahu 1993 di dunia penerbangan melaporkan bahwa kepercayaan yang sangat besar pada kehandalan sistem otomasi dapat memberikan konsekuensi terjadinya complacency (kepuasan) terhadap otomasi yang berdampak kurang menguntungkan secara psikologis pada manusia sebagai operator.  Penelitian para ahli ini mengungkap bahwa kepercayaan yang besar pada autopilot sebagai sistem otomasi membuat pilot mengandalkan kemampuan fungsi autopilot sehingga tidak memperhatikan operasional penerbangan yang seharusnya dilakukan.  Artinya, pilot tidak melakukan monitoring ketika autopilot difungsikan, sehingga saat fase kritis ia tidak memperoleh informasi yang cukup untuk mengatasi situasi tersebut. Di sini terlihat bahwa complacency dapat menyebabkan menurunnya peran dan keterampilan monitoring operator terhadap sistem dan  menurunnya kemampuan mendeteksi kegagalan fungsi sistem. 

Studi tentang complacency otomasi melibatkan proses kognitif. Gejala ini umumnya terjadi pada kondisi beban kerja meningkat karena tuntutan multi-tugas dan/atau ketika tugas manual dan tugas otomasi secara bersama menuntut perhatian.   Complacency otomasi dapat berdampak pada terjadinya kesalahan karena keliru dalam bertindak.

Penutup

Sistem otomasi sesuai tujuannya, untuk membantu manusia bekerja lebih cepat dengan hasil lebih akurat, disamping mengurangi beban kerja dan menurunkan kemungkinan terjadinya kesalahan. Namun demikian, di sisi lain berbagai dampaknya memberikan tantangan tersendiri.  Bila hal ini tidak diantisipasi dan diwaspadai, yang terjadi bukan otomasi membantu tugas manusia, melainkan dapat menyebabkan kegagalan manusia dalam bertindak dan bekerja.

inviadwi
inviadwi

Would you like to share your thoughts?